RSS

Sabtu, 29 Maret 2008

"Kembali kekamarku"


Pada malam sabtu yang hampa ini, aku sendiri dikamarku. Kamar ku yang dahulu waktu aku bersama Udin memulai suatu babak kehidupan disuatu persimpangan yang bernama poltek GT. Dahulu aku sering bercerita dan berbagi tentang arti, makna dan maksud kita ada dikehidupan ini. Siang yang terik galau kita lalui saat berjalan kekantin, kebingungan dan kekuatiran tentang pelajaran dan apapun itu dikampus menekanku. Sekarang aku bersama Hendra anak elektro yang sebenarnya sudah lama kukenal. Iapun mempunyai jalan hidup yang berliku pula sehingga aku juga dapat teman yang dapat diajak diskusi tentang kehidupan.
Sambil mendengarkan radio Sonora aku terus menulis. Saat ini pikiranku melayang kedalam relung yang aku terasa asing baginya. Bagaimanapun aku masih ada di kehidupan ini entah kapan dan dimana kehidupanku berhenti dan akan diminta tanggungjawabku atas kehidupan yang kujalani, aku serahkan pada kebijaksanaan pada Yang Maha Bijaksana. Dan aku minta dikasihani kepada Yang Maha Pengasih, Allah. Tidak ada dayaku dan apapun kemampuan yang aku miliki semua terserah kepada Engkau ya Allah. Sepertinya didepan akan sangat aneh bagiku tapi aku hanya dapat berharap dan berusaha sebaiknya untuk tidak melanggar perintah-Mu

Jumat, 28 Maret 2008

"Nafas Terakhir"



Tak terasa detik-demi detik dari kehidupan kita berlalu, sedikit demi sedikit jatah umur kita di dunia berkurang, tak terasa pula kesempatan kita untuk menarik nafas dikehidupan ini kian terbatas. Sadarkah wahai diri bahwa kita begitu lalainya, sadarlah wahai diri amal soleh apa yang sudah kita lakukan untuk bekal kita nanti menghadap Yang Maha Gagah, ataukah saat ini kita masih dalam kelalaian yang sangat akan hari nyawa kita dicabut….?, aku berlindung kepada Allah darinya. Lalu sebenarnya dimana letak kecerdasan diri ini jika untuk hal yang sungguh pasti akan kita alami tetapi kita tetap lalai darinya? Apakah kita tidak sadar terhadap sanak saudara, tetangga, teman kita yang sering kita dengar kabar kematiannya, bagaimana jika beberapa detik kemudian yang di kabarkan adalah berita kematian kita, apakah kita menyangka itu tidak akan mungkin? Jawabannya adalah sangat mungkin sekali, karena tidak ada sesuatu yang lebih pasti untuk kita alami daripada kematian kita. Wahai diri mengapa engkau lebih sibuk untuk menduga-duga dan merencanakan terhadap hal yang belum tentu terjadi? Engkau begitu sibuk menata dan merencanakan untuk membeli rumah yang megah, membeli mobil yang mewah, menempuh study di university ternama. Mengapa engkau tidak rencanakan saja kepastian yang mutlak yaitu hari kematian kita, bagaimana engkau akan menghadapinya?.
Ya Allah Yang Maha Menguasai atas segala sesuatu jadikan akhir dari hembusan nafas kami dalam keadaan ridho kepada-Mu dan Engkau pun ridho kepada kami. Amiiin

"Sebab kegelisahan"



Jika mau jujur terhadap diri kita sesungguhnya kesempitan dan kegelisahan dalam hidup kita adalah karena ketakutan kita terhadap sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi, kemudian pikiran kita tertutup olehnya sehingga kita melupakan banyak sekali nikmat yang ada dalam perjalanan hidup kita. Kita sangat takut jika esok tidak mendapatkan makan dan minum, kita sangat takut jika esok kita tidak dapat membayar rekening listrik, kita sangat takut jika esok tidak mendapatkan pekerjaan, kita sangat takut jika esok kita tidak mempunyai ongkos untuk bekerja dan lain-lain. Cobalah sejenak kita renungkan berapa persen ketakutan kita akan masa depan itu yang menjadi kenyataan setelah kita menjalaninya? Bukankan sampai saat ini kita masih hidup itu artinya kita masih mendapatkan makanan untuk kita makan dan air untuk kita minum, bukankah mata kita masih dapat melihat, bukankah telinga kita masih dapat mendengar, bukankah tubuh kita masih sehat, bukankah sampai saat ini semua persoalan kita selalu ada jalan keluarnya sehingga kita tetap mampu bertahan, bukankah saat ini oksigen untuk kita bernafas masih tersedia dengan cuma-cuma, bukankah hujan tetap turun dan matahari tetap setia bersinar, bukankah burung-burung tetap berkicau menghibur kita serta masih banyak lagi bukankah yang lain. Tetapi kita merasa seakan-akan diri kita orang yang paling malang di dunia, lalu dimana letak rasa syukur kita? Pantaslah kalau bukan kebahagiaan yang kita peroleh tetapi azab Allah yang akan menambah sesak, pengap dan derita dalam hidup karena begitu diri kita tidak tau berterimakasih kepada Robb-nya.
Ucapkanlah terimakasih atas hujan yang turun dengan kesejukannya, ucapkanlah terimakasih atas kehangatan sinar mentari pagi yang menerpa wajah kita, ucapkanlah terimakasih atas hembusan angin sore yang menentramkan perasaan kita, ucapkanlah terimakasih atas air yang menghilangkan dahaga kita, ucapkanlah terimakasih atas mata kita yang masih mampu melihat dan telinga kita yang masih mampu mendengar, ucapkanlah terimakasih atas apapun yang diberikan Allah, Insyaallah kita akan mendapati hati kita begitu lapang hingga sejauh mata memandang. Jangan tunggu saat penyesalan kita sampai pada puncaknya, yaitu saat kita akhiri hidup ini tanpa rasa syukur dan bersegera menghadapi derita yang tiada lagi bertepi. Na’uzubillah….

"Mempersulit Diri"



Betapa menderitanya seorang yang menjalani kehidupannya dengan mempersulit dirinya sendiri. Bangun tidur dia langsung marah-marah karena halaman rumahnya kotor akibat hujan yang turun, mengeluh atas harga-harga yang naik, berdebat dengan anggota keluarga yang lain karena hal yang sepele, memaksakan diri untuk mendapatkan yang tidak ada sambil terus menggerutu, melaksanakan pekerjaan rumah sambil melontarkan sumpah serapah, memaki-maki seperti orang gila saat terjebak macet dijalan, di dalam hatinya tertimbun rasa kesal yang menggunung tinggi yang entah mengenai apa rasa kesal itu. Kebencian, ketakutan, kegelisahan, dengki, irihati menumpuk dalam dadanya. Saat beranjak siang dia akan menjadi sumber masalah baru, siapapun orang yang ditemuinya akan meninggalkan konflik di ikuti makian dan sumpah serapah yang memang sudah menjadi ciri khasnya, dia selalu tidak menerima kondisi dan keadaan apapun yang alaminya dan akan selalu menjadikannya marah, apapun yang dia lihat, dengar dan rasakan tidak akan membuatnya tentram malah menambah kebencian dalam hatinya.
Lalu kapan dia akan bahagia jika dari awal mulai hidup hingga saat kematiannya dia selalu mempersulit dirinya? Jawabannya tidak akan, tetapi yang kemudian dia akan alami adalah lebih menyengsarakannya yaitu saat dia memulai babak kehidupan akhirat dengan derita yang tiada berakhir, aku berlindung kepada Allah darinya. Wollahu’alam

Kamis, 20 Maret 2008

"Tentang Ilmu"


Anda tidak akan yakin jika anda tidak paham, anda tidak akan paham jika anda tidak mengerti, anda tidak akan mengerti jika anda tidak mengetahui dan anda hanya akan mengetahui hanya jika anda memiliki ilmu.
Ilmu adalah makanan bagi akal kita dan ia merupakan jalan menuju keimanan yang tegar, siapa pun yang kokoh dalam ilmunya dan ia mampu beramal dengan ilmunya tersebut ia akan memahami hakekat kebenaran sehingga ia akan menemukan kenikmatan dalam kondisi kebenaran, dengan ilmu kita akan mengetahui yang mana yang benar dan salah. Kemudian setelah kita mempraktekkan petunjuk ilmu maka kita akan mendapatkan manfaat dari kebenaran yang kita lakukan hasilnya kita akan mendapatkan kebahagiaan keberuntungan, dan ia akan selalu mudah mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan karena ia mengetahui jalan menujunya. Ilmu itu begitu tipis dan berlapis-lapis sehingga ia tidak akan habis jika kita kupas oleh karenanya Baginda Rosullah SAW mewajibkan kita untuk menuntut ilmu dari buaian sampai kita hendak masuk liang lahat, mengapa harus sampai liang lahat? Karena liang lahat juga merupakan ilmu tentang akhir kisah kita didunia untuk diambil pelajaran darinya, subhanallah benarlah apa yang dikatakan baginda Rosullah SAW. Akal adalah pembeda manusia dengan makhluk Allah yang lain maka adillah terhadap nikmat Allah yang satu ini, jika kita setiap hari makan makanan untuk mendapatkan energi guna beraktivitas maka berilah makan akal kita dengan ilmu. Apakah akibat jika kita tidak memberi makan pada jasad kita? Tentu kita akan mati, begitu juga jika kita tidak memberi makan akal kita maka ia akan mati sehingga sarana pembeda yang benar dan yang batil akan lumpuh.
Ilmu adalah cara, ia terdiri dari tiga yaitu: Al-Qur’an, Al-Hadist dan ketidaktahuan. Dalam kehidupan setiap hari kita akan selalu dihadapkan kepada masalah, mulai dari kita membuka mata kita saat bangun tidur sampai kita tertidur kembali merupakan rentetan masalah yang harus kita hadapi, mulai dari kita pertama kali menangis didunia sampai saat kita ditangisi oleh sanak keluarga dihari kematian kita didalamnya terdapat soal-soal kehidupan yang harus kita selesaikan betapa menderitanya kita dalam kehidupan ini jika kita tidak tau bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah-masalah kita, hidup kita akan terasa pengap dan sesak sehingga kedamaian dalam diri tidak terpenuhi. Bagaimana kita tidak pengap dan sesak karena jika permasahan dalam kehidupan tidak kita selesaikan, maka seperti kita tertindih oleh sesuatu yang berlapis-lapis dan lapisannya kian bertambah tebal pada saat kita tidak mampu menyelesaikan masalah baru yang datang. Karenanya disinilah fungsi ilmu yaitu cara untuk menyelesaikan soal-soal kehidupan. Coba kita memasak nasi goreng saja tetapi kita tidak punya ilmu tentang bagaimana memasak nasi goreng yang benar, dapat dipastikan rasanya akan tidak enak Lantas kita akan mengarungi kehidupan yang penuh dengan aral rintangan dengan begitu banyak persimpangan yang membingungkan ini tanpa ilmu?