Jumat, 30 Mei 2008
"Hidup Adalah"
Hidup adalah jalan cerita yang tidak kita ketahui akhir kisahnya
Ia merupakan pertanyaan yang harus kita cari jawabannya
Ia merupakan persimpangan yang harus kita putuskan kearah mana kita akan melangkah
Merupakan misteri yang harus kita telusuri hakekatnya
Merupakan permasalahan yang harus kita cari jalan keluarnya
Merupakan akibat yang harus kita cari sebabnya
Merupakan persamaan yang harus kita cari nilainya
Merupakan hal yang harus kita pahami tentangnya
Ya Allah kenalkan aku pada kehidupan
Ya Allah pahamkan aku pada kehidupan
Ya Allah berikan aku keyakinan dalam kehidupan
Ya Allah senjatai aku dengan sabar saat menghadapi kesulitan di kehidupan
Ya Allah anugrahi aku dengan syukur saat mendapati ni’mat-Mu dalam kehidupan
Ya Allah iringkanlah langkahku dengan ikhlas dalam menjalani kehidupan
Amiiin…
Jumat, 23 Mei 2008
"Terimakasih Yaa Allah"
Cobalah kita perhatikan alam ini. Saat perjalanan pagi anda pergi ketempat kerja , matahari yang mulai naik menghangatkan permukaan bumi, awan-awan yang kadang kadang cerah berjalan didalam langit yang membiru dan kadang-kadang hitam di ikuti hembusan angin yang dingin, perhatikanlan tumbuh-tumbuhan dipinggir jalan yang mempunyai bentuk daun yang bermacam-macam ada yang sudah mulai menguning dan ada yang terlihat hijau segar, mereka begitu sabar dalam menjalani hari demi hari, mungkin mereka sudah berdiri di tempat itu selama satu, tiga atau mungkin sudah puluhan tahun. Perhatikan juga sinar matahari yang keperak-perakan dibiaskan oleh sisa kabut pagi lalu dipantulkan oleh daun-daun yang masih dilapisi sisa embun pagi, kemudian sejenak perhatikan bunga-bunga yang tumbuh ditaman-taman kota dipinggir jalan renungkan sejenak keindahannya, lihatlah macam-macam bentuk mahkotanya dengan memamerkan kepada dunia warna-warni yang membuat tentram siapa yang memandangnya, merupakan paduan karya seni dan rancangan yang begitu tinggi. Kemudian lemparkanlan pandangan kelangit yang membiru kemudian lepaskanlah segala keangkuhan serta gantilah isi hati dengan rasa syukur yang memenuhi dada, kemudian tanyalah kepada diri kita nikmat Allah apa saja yang sudah kita dustakan selama kita hidup atau setidaknya sudah sebandingkan rasa syukur kita dengan limpahan nikmat Allah disegenap penjuru alam dan semua sisi kehidupan kita?
Kemudian saat sore hari dalam perjalanan pulang perhatikan kembali rutinitas alam disekeliling kita. Hirup udara yang agak lembab bercampur aroma tanah akibat hujan yang turun tadi siang, matahari bergerak turun hendak menutup hari ini dengan cahaya keemas-emasan dalam langit yang akan kembali keperaduan malam, jangan lupa lemparkan pandangan kearah dedaunan pohon-pohon jalan yang menghijau sembari melepas beban kerja hari ini. Kemudian ucapkan Terimakasih ya..Allah, Maha Suci Engkau…!
Kamis, 22 Mei 2008
"Apa Yang Sudah Saya Berikan?"
Sungguh jika kita ingin mendapatkan maka belajarlah untuk memberi, karena salah satu rahasia kebahagiaan adalah dengan memberi. Cobalah kita lihat jika dua orang saling memberi dan menerima maka kebahagiaan akan terpancar dari kedua wajah mereka kemudian lihatlah yang kemudian yang merasakan paling bahagia adalah pihak yang memberi dengan syarat mereka berdua ikhlas dalam memberi dan menerima.
Dalam konteks Bangsa kita Indonesia yang tengah memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dapat kita kaitkan dengan konsep memberi dan menerima. Saya begitu terinspirasi dengan para pahlawan dan pendiri bangsa ini, cobalah tanyakan apa yang sudah Bung Karno berikan, apa yang sudah Bung Hatta berikan, apa yang sudah KH. Agus Salim berikan, apa yang sudah Bung Tomo berikan dan apa yang sudah para pahlawan semua berikan? Jawabannya mereka memberikan jiwa dan raga mereka untuk Bangsa ini. Tanyakanlah pada sejarah apa yang sudah diberikan Jendral besar Soedirman kepada bangsa ini? Yaitu titik darah penghabisan dan jiwa raga hingga hembusan nafas Beliau yang terakhir.
Pertanyaannya adalah mengapa mereka semua rela memberikan apa yang mereka miliki termasuk nyawa mereka kepada bangsa ini? Jawabannya karena mereka mempunyai keyakinan yang menghujam hingga kedasar bumi pertiwi yang dilandasi keimanan mereka kepada Allah Robbul’alamin. Tengoklah sejarah bagaimana catatan sejarah mengenai Jendral besar Soedirman. Dibalik raut wajahnya yang menyiratkan keteguhan, tatapan matanya yang tajam penuh dengan pemahaman serta keyakinan dan kharisma yang membuat gentar kaum penjajah kafir serta membuat segan orang-orang di sekeliling beliau ternyata beliau adalah seorang dai yang merakyat, juga seorang mukmin yang taat kepada Robb-nya, Subhanallah begitulah kekuatan iman hingga mampu melahirkan tokoh yang begitu luar biasa pribadinya. Tanyakanlah pula pada sejarah apa yang diterima oleh beliau sebagai balasan atas jiwa raga yang beliau korbankan untuk bangsa ini, apakan beliau mendapatkan harta yang melimpah, beliau mendapatkan rumah yang mewah serta uang yang banyak? Usia 31 Tahun beliau menjadi Jendral pertama sekaligus termuda dari bangsa ini kemudian usia 34 Tahun beliau wafat, artinya selama 3 Tahun beliau menjadi Jendral beliau berhasil mencatatkan namanya dengan tinta emas sejarah bangsa Indonesia yaitu keberhasilan beliau memimpin TKR waktu itu yang didukung rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari serbuan kaum kafir untuk menjajah kembali bangsa kita, sungguh suatu prestasi yang sulit kita tandingi.
Sekarang baliklah bertanya kepada diri kita yang saat ini menerima hasil dari jerih payah, tetesan keringat dan air mata serta tumpahan darah para pahlawan yang menghasilkan kemerdekaan yang merupakan berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa seperti diakui oleh para pendiri bangsa ini dalam pembukaan UUD ’45 yang merupakan refleksi keimanan mereka kepada pencipta diri mereka. Sekarang janganlah tanyakan hal itu kepada orang lain tapi tanyakanlah kepada diri kita masing masing, bagaimana? Ternyata kita harus mengelus dada kita tanda penyesalan yang bertubi-tubi karena betapa kita tidak tau berterimakasih, kita diwarisi kemerdekaan oleh para pendiri bangsa jangankan kita memberikan sesuatu kepada bangsa ini, menerima dengan baik dan menjaga bangsa ini saja kita masih jauh dari yang mereka para pahlawan harapkan. Lalu dimana letak hati nurani kita dan bagaimana kita hendak berterimakasih kepada Tuhan semesta alam atas nikmat kemerdekaan yang kita rasakan sedangkan untuk berterimakasih kepada para pahlawan yang karena ikhtiar mereka kita merasakan kemerdekaan saja kita enggan… jadi apa yang salah pada diri kita?
Sabtu, 17 Mei 2008
"Ibu"
Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
lewati rintangan demi aku anakmu
Ibu ku sayang masih terus berjalan
lewati rintangan demi aku anakmu
Ibu ku sayang masih terus berjalan
Walau tlapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
tak sanggup ku membalas Ibu....
Ingin ku dekap dan menangis dipangkwanmu
sampai aku teridur bagai masa kecil dulu
Lalu doa2 baluri sekujur tubuhku
dengan apa ku membalas Ibu......
Song By: Iwan Fals
'Bung Hatta"
Tuhan terlalu cepat semua, kau panggil satu2nya yang tersisa proklamator tercinta.
jujur lugu dan bijaksana. mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat indonesia.
terbayang baktimu. Terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu.
bernisan bangga, berkafan doa dari kami yang merindukan orang sepertimu.
jujur lugu dan bijaksana. mengerti apa yang terlintas dalam jiwa rakyat indonesia.
terbayang baktimu. Terbayang jasamu, terbayang jelas jiwa sederhanamu.
bernisan bangga, berkafan doa dari kami yang merindukan orang sepertimu.
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
berjuta kepala tertunduk haru ,
terbayang nama seorang sahabat yang tak lepas dari namamu...
Song By: Iwan Fals
Langganan:
Postingan (Atom)
