“Seorang yang tidak mempunyai rasa takut sungguh ia manusia yang damai” Jiddu Khrishnamurti.
Rasa cinta telah membuat seorang menjadi penakut. Karena cinta memiliki dua sisi yaitu harap dan takut yang satu sama lain saling menjadi sebab dan akibat. Cinta membuat orang takut karena ia begitu berharap apa yang ia cintai, kemudian cinta juga membuat orang menaruh harapan yang besar karena ia begitu takut tidak memiliki yang ia cintai.
Maka sungguh merupakan sesuatu yang di luar dimensi dunia apa yang dikatakan oleh Jiddu, maka hal yang lebih mudah adalah “Jika ingin menemukan samudera yang baru, lekas tinggalkan pandanganmu dari indahnya pantai….”
Minggu, 15 Februari 2009
Kamis, 29 Januari 2009
"23 Januari 2009"
23 januari 2009, pagi ini seperti biasa aku menghadapi rutinitasku menjalani aliran sang waktu. Mengawali hari dengan sholat subuh telat astagfirullah…., memang rasanya badanku sejak kemarin terasa meriang dan kepalaku sedikit sakit sehingga malam harinya setelah ba’da sholat isya aku minta dikerik sama ibu mungkin aku masuk angin karena biasanya jika sudah dikerik ibu masuk anginku sembuh dan alhamdulillah kondisi badanku memang agak membaik. Perjalanan menuju tempat kerja sambil mengendarai sepeda motor seperti hari-hari biasanya, pagi itu hari mendung serta jalan masih tersisa genangan air karena hujan tadi malam yang nampaknya cukup deras. Aku menengadahkan pandanganku kearah langit dan memang langit hari ini muram, kelabu sehingga mataharipun tampaknya enggan untuk segera menyelimuti hariku dengan kehangatannya. Dingin yang kurasakan, tetapi kemudian sambil terus memacu sepeda motorku tiba-tiba terlintas dalam alam pikirku hidup adalah mengulang sebagian besar hari yang telah kita lalui kemarin. Aku melihat kendaraan terus berlalu lalang, angkot-angkot yang berhenti dengan seenaknya, bus kota yang mulai menyebarkan polusi asap dari deru knalpotnya, sepeda motor yang gesit mencari celah diantara padatnya lalulintas untuk sampai ketempat kerja tidak terlambat, polisi lalulintas yang sibuk mengatur lalulintas kota tangerang yang padat kemudian toko-toko dipinggir jalan juga mulai memulai harinya, ya…. hari yang baru telah terbit. Mulailah semua sisi dan segi emosional bercampur dalam irama kehidupan, ada yang memulai hari dengan air muka yang cerah, ada yang memulai hari dengan kegelisahan, ada yang memulai dengan kemarahan, ada yang memulai dengan kesedihan, ada yang memulai dengan ketakutan dan lain-lain semuanya bersatu dalam wadah yang bernama kehidupan. Melihat begitu banyaknya orang yang berlalu-lalang pagi ini terpikir olehku kira kira apa yang terlintas dalam pikiran mereka semua, mungkin seorang diantara mereka sedang memikirkan masalahnya ditempat kerja, memikirkan masalah keuangan atau memikirkan masa lalunya atau juga memikirkan tentang keluarganya, entahlah mungkin sama seperti diriku sejenak berpikir masalah pekerjaan, tiba-tiba ketika melihat anak-anak berseragam sekolah teringat masa bersekolah dahulu kemudian melihat seorang polisi cepe’ yang sudah berumur lanjut aku jadi teringat almarhum kakek, tapi terkadang aku lebih suka melemparkan pandanganku sesekali kearah dedaunan karena itu membuat hatiku tentram dan tempat yang paling aku sukai adalah ketika melewati pinggir sungai cisadane karena disitu banyak penjual tanaman bunga taman.
Apapun itu ternyata sedikit sekali aku mengingat Allah, terkadang kita tidak sempat terpikirkan siapa yang menciptakan semua drama kehidupan yang begitu terkonsep, kita lupa menyadari siapa yang menciptakan semua yang kita lihat, dengar dan rasakan. Mungkin begitulah kelak kita baru tersadar ketika kita hendak menghadapi akhir kehidupan kita, datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan kita. Wallahu’alam
"Mengenang Masa Kecilku"
Mengenang masa kecilku terkadang membuat air mataku menetes, bukan karena aku terlalu cengeng untuk menghadapi kehidupan tapi karena terkenang akan nenekku yang sungguh sangat menyayangiku. Mbo tuo aku memanggilnya yang dalam bahasa jawa itu berarti nenek atau nek, entah mengapa aku merasa ialah satu-satunya orang yang memberikan kadar cintanya tertinggi dibandingkan dengan semua orang yang pernah aku kenal, ia hampir tidak pernah marah kepadaku dan aku bersama mbakku(kakak perempuanku) memang sudah dibawah pengasuhannya sejak aku balita tepatnya di daerah klaten, jawa tengah. Hari demi hari aku habiskan dibawah asuhan tangan tuanya, terkadang ia mencari daun jati, terkadang ia mencari kayu bakar, terkadang ia mencari bunga pohon eucatiptus yang hasilnya ia jual hanya untuk sekedar makan hari ini. Tubuh rentanya dibalut dengan semangat juang untuk terus menghadapi apa yang kehidupan sodorkan kepadanya, raut mukanya menyiratkan ketabahan akan tempaan kehidupan, bungkuk tubuhnya menyiratkan beratnya beban yang ia pikul dalam hidupnya, rambut putihnya menyiratkan bukti akan lelahnya menghadapi sang waktu, tertunduk aku mengenangnya kemudian terbesit dalam hati sebuah doa, “Ya…Allah beliau sudah merasakan getirnya kehidupan dunia maka perkenankanlah untuk merasakan manisnya kehidupan akhirat”.
Kalau malam mulai menyelimuti, ia mengunyah daun sirih sembari membereskan apa yang bisa ia jual besok untuk menyambung datangnya hari, kalau aku terjaga dari tidurku satu kata yang masih terus kukenang yaitu, “Ge’ turu o le’, ta tunggoni” yang berarti tidurlah cu, saya tungguin…. Pagi-pagi sekali tubuh tuanya sudah menggendong apa yang akan ia jual kepasar, pulang dari pasar ia sudah membawa nasi bungkus untuk sarapan dan memberikan uang jajan untukku dan mbakku, biasanya kami diberi 50 rupiah, 25 untuk mbakku 25 untukku.
Terkadang aku terlalu malu, mbo tuo menghadapi seberat apapun yang kehidupan berikan kepadanya, tetapi aku terlalu lemah hanya sekedar untuk menghadapi masalah yang jauh lebih sepele dari yang dihadapinya. Mbo tuo masih mampu memberikan cintanya yang begitu besar walaupun sedikit sekali ia menerima cinta dari orang lain dalam kehidupan ini. Ya Allah izinkan aku untuk sekedar memberikan baktiku sebelum semuanya terlambat…
Kalau malam mulai menyelimuti, ia mengunyah daun sirih sembari membereskan apa yang bisa ia jual besok untuk menyambung datangnya hari, kalau aku terjaga dari tidurku satu kata yang masih terus kukenang yaitu, “Ge’ turu o le’, ta tunggoni” yang berarti tidurlah cu, saya tungguin…. Pagi-pagi sekali tubuh tuanya sudah menggendong apa yang akan ia jual kepasar, pulang dari pasar ia sudah membawa nasi bungkus untuk sarapan dan memberikan uang jajan untukku dan mbakku, biasanya kami diberi 50 rupiah, 25 untuk mbakku 25 untukku.
Terkadang aku terlalu malu, mbo tuo menghadapi seberat apapun yang kehidupan berikan kepadanya, tetapi aku terlalu lemah hanya sekedar untuk menghadapi masalah yang jauh lebih sepele dari yang dihadapinya. Mbo tuo masih mampu memberikan cintanya yang begitu besar walaupun sedikit sekali ia menerima cinta dari orang lain dalam kehidupan ini. Ya Allah izinkan aku untuk sekedar memberikan baktiku sebelum semuanya terlambat…
Kamis, 22 Januari 2009
"Catatan Di Kamar Kostku Yang Terlewatkan"
Pada malam sabtu yang hampa ini, aku sendiri dikamarku. Kamar ku yang dahulu waktu aku bersama Udin memulai suatu babak kehidupan disuatu persimpangan yang bernama poltek GT. Dahulu aku sering bercerita dan berbagi tentang arti, makna dan maksud kita ada dikehidupan ini. Siang yang terik galau kita lalui saat berjalan kekantin, kebingungan dan kekuatiran tentang pelajaran dan apapun itu dikampus menekanku. Sekarang aku bersama Hendra anak elektro yang sebenarnya sudah lama kukenal. Iapun mempunyai jalan hidup yang berliku pula sehingga aku juga dapat teman yang dapat diajak diskusi tentang kehidupan.
Sambil mendengarkan radio Sonora aku terus menulis. Saat ini pikiranku melayang kedalam relung yang aku terasa asing baginya. Bagaimanapun aku masih ada di kehidupan ini entah kapan dan dimana kehidupanku berhenti dan akan diminta tanggungjawabku atas kehidupan yang kujalani, aku serahkan pada kebijaksanaan pada Yang Maha Bijaksana. Dan aku minta dikasihani kepada Yang Maha Pengasih, Allah. Tidak ada dayaku dan apapun kemampuan yang aku miliki semua terserah kepada Engkau ya Allah. Sepertinya didepan akan sangat aneh bagiku tapi aku hanya dapat berharap dan berusaha sebaiknya untuk tidak melanggar perintah-Mu
Sambil mendengarkan radio Sonora aku terus menulis. Saat ini pikiranku melayang kedalam relung yang aku terasa asing baginya. Bagaimanapun aku masih ada di kehidupan ini entah kapan dan dimana kehidupanku berhenti dan akan diminta tanggungjawabku atas kehidupan yang kujalani, aku serahkan pada kebijaksanaan pada Yang Maha Bijaksana. Dan aku minta dikasihani kepada Yang Maha Pengasih, Allah. Tidak ada dayaku dan apapun kemampuan yang aku miliki semua terserah kepada Engkau ya Allah. Sepertinya didepan akan sangat aneh bagiku tapi aku hanya dapat berharap dan berusaha sebaiknya untuk tidak melanggar perintah-Mu
Kamis, 15 Januari 2009
"Eksakta Hidup"
Hidup sebenarnya adalah ilmu eksakta, ia merupakan suatu sistem yang sempurna dan sangat teliti. Persamaan dasarnya adalah sesuatu yang baik dan benar tidak akan membuat kita hina dan salah sebaliknya kita tidak akan mencapai sesuatu yang baik dan benar dengan sesuatu yang hina dan salah. Merenunglah semua yang telah kita lakukan, ingatlah kembali semua yang kita lalui kemudian jujurlah pada diri kita serta mengakulah andai kita temukan dalam persamaan kehidupan yang sedang kita selesaikan sesuatu yang salah dan hina. Telitilah kembali sebelum kita benar-benar di buat menderita karena persamaan kehidupan kita akan menghasilkan sama dengan yang salah dan hina andai disana terdapat sesuatu yang salah dan hina.
Teman…., lebih baik kita mengaku sekarang sebelum kita dipaksa mengaku oleh Allah, sebelum kita dibenturkan, sebelum kita diseret, sebelum kita dijatuhkan hingga kedasar yang lukanya sulit disembuhkan. Andaikan ada niatan kita yang tidak ikhlas karena Allah perbaikilah sekarang mulailah lagi mengerjakan persamaan kehidupan dari awal kembali serta jangan ragu untuk menghentikan persamaan yang sudah salah hanya karena kita sudah terlalu jauh mengerjakannya, hentikanlah sekarang karena hasilnya sudah pasti kesalahan. Teman…, jangan khawatir itu lebih baik ketimbang kita memaksakan sesuatu yang salah kalau tidak sesuatu yang salah itu kelak akan menghantam kita dan meninggalkan luka kehidupan yang menyakitkan. Jangan sekali-kali memaksakan dengan membuat tipu daya karena Allah Maha Mengetahui lipatan hati kita yang paling tersembunyi, Dia akan membalasnya dengan membuka serta memperlihatkan kebodohan kita, mempermalukan di hadapan orang lain lalu membuat kita menjadi hina sehingga yang akan kita rasakan merupakan sakit yang kian bertambah.
Astagfirullah…., mohonlah ampun kepada Allah mudah-mudahan Allah mengampuni. Ya Allah….., Engkau tau niatanku tidak murni karena Engkau Ya Robb, sehingga Engkau peringatkan diriku dengan tamparan berkali-kali. Ya Robb begitu sakit tamparan-Mu tetapi terimakasih Engkau telah mengingatkanku sebelum aku benar-benar jatuh. Ya Robb bimbinglah hamba-Mu ini untuk menjalani kehidupan ini dengan sesuatu yang baik dan benar bukan sesuatu yang hina dan salah. Amin..
Langganan:
Postingan (Atom)
