RSS

Jumat, 15 Mei 2009

"File Kisah Hidup"

Lipatan-lipatan otak mampu menyimpan file kisah hidup, kemudian hati menterjemahkan rasa yang terekam sehingga perasaan membawa ke memori hari yang terlewati. Manusiawi dan tak bisa dipersalahkan asalkan semua itu dapat menjadi nasehat di hari yang mungkin datang di masa depan. Masa lalu seperti bekas tapak-tapak kaki yang kita tinggalkan bagaimanapun ia akan selalu mengikuti kemana kita mengayunkan langkah hidup kita terkadang ia datang menjadi lamunan yang menyelingi lelahnya hari yang kita jalani. Kemudian kendalikan tapi bukan paksa, cukup kendalikan agar ia tidak membuat kita menjadi seorang pengecut kehidupan yang berusaha bersembunyi serta takut menghadapi hadangan masalah hari esok yang mungkin datang. Tidak perlu memaksakan untuk melupakannya karena ia tetap tak bisa di-“del” dari lipatan otak kita kecuali jika Allah menghendaki. Jadikanlah ia sahabat yang menasehati kita, bahwa hidup adalah seni bersabar, hidup adalah seni bersyukur dan hidup adalah seni berikhlas. Menjernihkan hati dari kekeruhan dunia yaitu ketika kita mampu tersadarkan secara total bahwa kehidupan dunia hanyalah main-main dan sendagurau. Wallahu’alam

Jumat, 01 Mei 2009

"Tunggulah, Seberapa Bijak Kita Dia Masa Lalu?"

Tunggulah apa yang akan di jawab oleh waktu, jalani saja hidup

Tunggulah apa yang akan di jawab oleh waktu, jalani saja hidup ku dengan yang Allah bagikan. Merupakan pelajaran yang dalam tentang makna proses, terbuka untuk mengerti bahwa semuanya sudah terencana, tepat dan sering tak terduga. Apa yang kita butuhkan ternyata tidak jauh tapi ia hadir tanpa kita sadari, ia adalah yang sesungguhnya kita butuhkan dan memang diperuntukkan untuk kita begitulah jika Allah berkehendak. Sesungguhnya yang kita butuhkan terkadang bukan yang selama ini kita kagumi, oleh karenanya janganlah kita seperti seorang yang mengejar kupu-kupu yang terbang karena kita terpikat dengan keindahannya karena ia akan terbang semakin menjauhi tetapi tenanglah maka kemudian ia akan hinggap di tubuh kita tanpa kita menyadarinya.

Pelajaran yang lain adalah adillah dan pandanglah setiap hal dengan mencoba men-tawar-kan perasaan kita sehingga kita objektif menilai dan memutuskan, karena terkadang perasaan kita menghalangi kita untuk melangkah sebab ketidakadilan kita. Yakinlah bahwa yang kita butuhkan adalah yang hadir untuk kita, yang memberikan banyak hal untuk kita kemudian mudah-mudahan Allah berkenan kiranya inilah jalan yang terbaik untuk hidupku. Hari-hari akan terus menerbitkan mentari, waktu akan terus berdetak dengan teratur menjauhkan kita dari keadaan kita saat ini kemudian semuanya akan menampakkan perubahan dalam setiap sisinya yang kian bertambah jelas. Biarkanlah karena ia akan membuktikan siapa yang benar dan yang berbohong, siapa yang bersungguh-sungguh dan yang bermain-main akhirnya kita akan menyadari seberapa bijakkah kita memutuskan di masa lalu. Wallahu’alam

"Satu Kebahagiaan"

“Suatu kebahagiaan yaitu berhenti mengejar sesuatu di dunia ini yang sulit kita gapai”, begitulah tertulis di layar hp-ku sebuah sms dari seorang kawan. Sejenak isi sms itu membuatku termenung, benarlah apa yang tertulis ini karena hatiku saat itu memang sedang membutuhkan dukungan. Kemudian terpikir olehku bahwa salah satu sumber kegelisahan adalah ketidakmampuan mengontrol apa yang kita ingini, karena kita tidak menyadari bahwa penentu apa yang kita jalani adalah Allah. Wallahu’alam

"Lintasan Masa Lalu"

Lintasan masa lalu terkadang membuat kita terhenyu, alam pikira

Lintasan masa lalu terkadang membuat kita terhenyu, alam pikiran kita menerawang mengenang hari-hari yang terlewati. Ketika dalam perjalanan menuju dan pulang dari tempat kerjaku, satu yang sering ku lakukan adalah mencari sosok bus berwarna merah “Agra Mas” nama bus itu. Ada suasana yang berbeda ketika ku lihat lekat-lekat bus itu, suasana hatiku beranjak hening, sering sepeda motorku kupacu disampingnya hanya sekedar untuk melihat bus itu dari dekat, terkadang sebisa mungkin kemelongok kearah jendela untuk memperhatikan beberapa orang penumpang disana, hatiku mencari-cari sesuatu yang terasa hilang dan berharap dapat kutemukan walaupun sebenarnya itu hanyalah khayalku saja karena hampir tidak mungkin terjadi. Begitulah masa laluku masih mengikuti keseharianku seperti halnya rasa hatiku yang masih terikat dengan laju bus jurusan Tangerang-Bekasi itu. Pernah suatu masa aku mengoreskan tinta sejarah hidupku tentang seorang yang aku tuju dengan bus merah itu “Agra Mas”.

Kamis, 16 April 2009

"Untitled2"

Kuntum Cintanya....

Publikasi: 15/03/2004 10:44 WIB

eramuslim - “De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

De… Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

A’ lihat aku…,” pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama....” bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

To my luv, thank u 4 d best gift I ever have

Al Birru
emine_mm@maktoob.com