RSS

Minggu, 15 Februari 2009

"11/02/2009"

Resume pengajian malam kamis, 11/02/2009.
Oleh : Ustd. Abdurrohman.

kesulitan setelah mencapai puncak akan datang kemudahan.
jangan mengukur kemampuan kita dengan kemampuan orang lain.
kunci mendapatkan kemudahan adalah berikan yang kita miliki karena taqwa kepada Allah.
banyak orang berkorban demi uang tetapi sedikit orang yang mengorbankan uang untuk dirinya.
mengapa orang selalu sulit? Karena yang ia berikan bukan karena Allah.
sesuatu yang tidak cocok dengan kita jangan berburuk sangka.
berbaik sangka itu perbuatan yang benar meskipun sangkaannya salah sebaliknya berburuk sangka itu perbuatan yang salah meskipun sangkaannya benar
segala sesuatu itu sesuai dengan sangkaan kita.
sesuatu yang di lakukan demi pahala dari Allah akan mendapat kemudahan.
jika tidak karena Allah apa yang kita usahakan tidaklah akan bermanfaat.
kita akan mendapatkan apa yang telah kita berikan.
maka memberilah karena Allah dan selalu khusnuzon kepada Allah..

"Menyerah Dengan Cinta"


Untuk Kak Fahri
Yang sedang berbahagia
Bersama isterinya
Assalamu alaikum wr. wb.
Kutulis surat ini dengan lelehan air mataku yang tiada berhenti dari detik
ke detik. Kutulis surat ini kala hati tiada lagi menahan nestapa yang menderadera
perihnya luar biasa. Kak Fahri, aku ini perempuan paling bodoh dan paling
malang di dunia. Bahwa mengandalkan orang lain sungguh tindakan paling
bodoh. Dan aku harus menelan kepahitan dan kegetiran tiada tara atas
kebodohanku itu. Kini aku didera penyesalan tiada habisnya. Semestinya aku
katakan sendiri perasaanku padamu. Dan apakah yang kini bisa kulakukan
kecuali menangisi kebodohanku sendiri. Aku berusaha membuang rasa cintaku
padamu jauh-jauh. Tapi sudah terlambat. Semestinya sejak semula aku bersikap
tegas, mencintaimu dan berterus terang lalu menikah atau tidak sama sekali. Aku
mencintaimu diam-diam selama berbulan-bulan, memeramnya dalam diri hingga
cinta itu mendarahdaging tanpa aku berani berterus terang. Dan ketika kau tahu
apa yang kurasa semuanya telah terlambat.
Kak Fahri,
Kini perempuan bodoh ini sedang berada dalam jurang penderitaannya
paling dalam. Dan jika ia tidak berterus terang maka ia akan menderita lebih
berat lagi. Perempuan bodoh ini ternyata tiada bisa membuang rasa cinta itu.
Membuangnya sama saja menarik seluruh jaringan sel dalam tubuhnya. Ia akan
binasa. Saat ini, Kak Fahri mungkin sedang dalam saat-saat paling bahagia,
namun perempuan bodoh ini berada dalam saat-saat paling menderita.
Kak Fahri,
Apakah tidak ada jalan bagi perempuan bodoh ini untuk mendapatkan
cintanya? Untuk keluar dari keperihan dan kepiluan hatinya. Bukankah ajaran
agama kita adalah ajaran penuh rahmah dan kasih sayang. Kak Fahri adalah
orang shalih dan isteri Kak Fahri yaitu Aisha adalah juga orang yang shalihah.
Bagi orang shalih semua yang tidak melanggar syariah adalah mudah.
Kak Fahri,
Sungguh maaf aku sampai hati menulis surat ini. Namun jika tidak maka
aku akan semakin menyesal dan menyesal. Bagi seorang perempuan jika ia telah
mencintai seorang pria. Maka pria itu adalah segalanya. Susah melupakan cinta
pertama apalagi yang telah menyumsum dalam tulangnya. Dan cintaku padamu
seperti itu adanya telah mendarah daging dan menyumsum dalam diriku. Jika
masih ada kesempatan mohon bukakanlah untukku untuk sedikit menghirup
manisnya hidup bersamamu. Aku tidak ingin yang melanggar syariat aku ingin
yang seiring dengan syariat. Kalian berdua orang shalih dan paham agama tentu
memahami masalah poligami. Apakah keadaan yang menimpaku tidak bisa
dimasukkan dalam keadaan darurat yang membolehkan poligami? Memang tidak
semua wanita bisa menerima poligami. Dan tenyata jika Aisha termasuk yang
tidak menerima poligami maka aku tidak akan menyalahkannya. Dan biarlah aku
mengikuti jejak puteri Zein dalam novel yang ditulis Syaikh Muhammad
Ramadhan Al Buthi yang membawa cintanya ke jalan sunyi, jalan orang-orang
sufi, setia pada yang dicintai sampai mati.
Wassalam,
Nurul Azkiya


Membaca surat Nurul Azkiya untuk Fahri benar-benar membuat aku terhenyu. Ternyata seorang Nurul Azkiya, mahasiswi Al-Azhar dan seorang ketua perkumpulan mahasiswi muslim Indonesia masih dapat tertunduk dan menyerah terhadap cinta. Sampai akhirnya dapat kupahami alasan mengapa cinta berada pada posisi tertinggi dari semua rasa. Sedih, takut, marah, benci, sulit dan semua rasa yang ada akan terkalahkan dengan rasa cinta.

"Tak Punya Rasa Takut"

“Seorang yang tidak mempunyai rasa takut sungguh ia manusia yang damai” Jiddu Khrishnamurti.
Rasa cinta telah membuat seorang menjadi penakut. Karena cinta memiliki dua sisi yaitu harap dan takut yang satu sama lain saling menjadi sebab dan akibat. Cinta membuat orang takut karena ia begitu berharap apa yang ia cintai, kemudian cinta juga membuat orang menaruh harapan yang besar karena ia begitu takut tidak memiliki yang ia cintai.
Maka sungguh merupakan sesuatu yang di luar dimensi dunia apa yang dikatakan oleh Jiddu, maka hal yang lebih mudah adalah “Jika ingin menemukan samudera yang baru, lekas tinggalkan pandanganmu dari indahnya pantai….”

Kamis, 29 Januari 2009

"23 Januari 2009"


23 januari 2009, pagi ini seperti biasa aku menghadapi rutinitasku menjalani aliran sang waktu. Mengawali hari dengan sholat subuh telat astagfirullah…., memang rasanya badanku sejak kemarin terasa meriang dan kepalaku sedikit sakit sehingga malam harinya setelah ba’da sholat isya aku minta dikerik sama ibu mungkin aku masuk angin karena biasanya jika sudah dikerik ibu masuk anginku sembuh dan alhamdulillah kondisi badanku memang agak membaik. Perjalanan menuju tempat kerja sambil mengendarai sepeda motor seperti hari-hari biasanya, pagi itu hari mendung serta jalan masih tersisa genangan air karena hujan tadi malam yang nampaknya cukup deras. Aku menengadahkan pandanganku kearah langit dan memang langit hari ini muram, kelabu sehingga mataharipun tampaknya enggan untuk segera menyelimuti hariku dengan kehangatannya. Dingin yang kurasakan, tetapi kemudian sambil terus memacu sepeda motorku tiba-tiba terlintas dalam alam pikirku hidup adalah mengulang sebagian besar hari yang telah kita lalui kemarin. Aku melihat kendaraan terus berlalu lalang, angkot-angkot yang berhenti dengan seenaknya, bus kota yang mulai menyebarkan polusi asap dari deru knalpotnya, sepeda motor yang gesit mencari celah diantara padatnya lalulintas untuk sampai ketempat kerja tidak terlambat, polisi lalulintas yang sibuk mengatur lalulintas kota tangerang yang padat kemudian toko-toko dipinggir jalan juga mulai memulai harinya, ya…. hari yang baru telah terbit. Mulailah semua sisi dan segi emosional bercampur dalam irama kehidupan, ada yang memulai hari dengan air muka yang cerah, ada yang memulai hari dengan kegelisahan, ada yang memulai dengan kemarahan, ada yang memulai dengan kesedihan, ada yang memulai dengan ketakutan dan lain-lain semuanya bersatu dalam wadah yang bernama kehidupan. Melihat begitu banyaknya orang yang berlalu-lalang pagi ini terpikir olehku kira kira apa yang terlintas dalam pikiran mereka semua, mungkin seorang diantara mereka sedang memikirkan masalahnya ditempat kerja, memikirkan masalah keuangan atau memikirkan masa lalunya atau juga memikirkan tentang keluarganya, entahlah mungkin sama seperti diriku sejenak berpikir masalah pekerjaan, tiba-tiba ketika melihat anak-anak berseragam sekolah teringat masa bersekolah dahulu kemudian melihat seorang polisi cepe’ yang sudah berumur lanjut aku jadi teringat almarhum kakek, tapi terkadang aku lebih suka melemparkan pandanganku sesekali kearah dedaunan karena itu membuat hatiku tentram dan tempat yang paling aku sukai adalah ketika melewati pinggir sungai cisadane karena disitu banyak penjual tanaman bunga taman.
Apapun itu ternyata sedikit sekali aku mengingat Allah, terkadang kita tidak sempat terpikirkan siapa yang menciptakan semua drama kehidupan yang begitu terkonsep, kita lupa menyadari siapa yang menciptakan semua yang kita lihat, dengar dan rasakan. Mungkin begitulah kelak kita baru tersadar ketika kita hendak menghadapi akhir kehidupan kita, datang dengan tiba-tiba dan mengejutkan kita. Wallahu’alam

"Mengenang Masa Kecilku"

Mengenang masa kecilku terkadang membuat air mataku menetes, bukan karena aku terlalu cengeng untuk menghadapi kehidupan tapi karena terkenang akan nenekku yang sungguh sangat menyayangiku. Mbo tuo aku memanggilnya yang dalam bahasa jawa itu berarti nenek atau nek, entah mengapa aku merasa ialah satu-satunya orang yang memberikan kadar cintanya tertinggi dibandingkan dengan semua orang yang pernah aku kenal, ia hampir tidak pernah marah kepadaku dan aku bersama mbakku(kakak perempuanku) memang sudah dibawah pengasuhannya sejak aku balita tepatnya di daerah klaten, jawa tengah. Hari demi hari aku habiskan dibawah asuhan tangan tuanya, terkadang ia mencari daun jati, terkadang ia mencari kayu bakar, terkadang ia mencari bunga pohon eucatiptus yang hasilnya ia jual hanya untuk sekedar makan hari ini. Tubuh rentanya dibalut dengan semangat juang untuk terus menghadapi apa yang kehidupan sodorkan kepadanya, raut mukanya menyiratkan ketabahan akan tempaan kehidupan, bungkuk tubuhnya menyiratkan beratnya beban yang ia pikul dalam hidupnya, rambut putihnya menyiratkan bukti akan lelahnya menghadapi sang waktu, tertunduk aku mengenangnya kemudian terbesit dalam hati sebuah doa, “Ya…Allah beliau sudah merasakan getirnya kehidupan dunia maka perkenankanlah untuk merasakan manisnya kehidupan akhirat”.
Kalau malam mulai menyelimuti, ia mengunyah daun sirih sembari membereskan apa yang bisa ia jual besok untuk menyambung datangnya hari, kalau aku terjaga dari tidurku satu kata yang masih terus kukenang yaitu, “Ge’ turu o le’, ta tunggoni” yang berarti tidurlah cu, saya tungguin…. Pagi-pagi sekali tubuh tuanya sudah menggendong apa yang akan ia jual kepasar, pulang dari pasar ia sudah membawa nasi bungkus untuk sarapan dan memberikan uang jajan untukku dan mbakku, biasanya kami diberi 50 rupiah, 25 untuk mbakku 25 untukku.
Terkadang aku terlalu malu, mbo tuo menghadapi seberat apapun yang kehidupan berikan kepadanya, tetapi aku terlalu lemah hanya sekedar untuk menghadapi masalah yang jauh lebih sepele dari yang dihadapinya. Mbo tuo masih mampu memberikan cintanya yang begitu besar walaupun sedikit sekali ia menerima cinta dari orang lain dalam kehidupan ini. Ya Allah izinkan aku untuk sekedar memberikan baktiku sebelum semuanya terlambat…