RSS

Kamis, 16 April 2009

"Untitled2"

Kuntum Cintanya....

Publikasi: 15/03/2004 10:44 WIB

eramuslim - “De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

De… Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

A’ lihat aku…,” pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama....” bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

To my luv, thank u 4 d best gift I ever have

Al Birru
emine_mm@maktoob.com


Jumat, 27 Maret 2009

"Saat Kembali Keperaduan"

Lepaskan sejenak beban hidup.

Bersihkan hati dari iri hati dan dengki.

Tanggalkan semua kesedihan dan kegelisahan.

Bebaskan pikiran akan setumpuk urusan dunia.

Maafkan semua orang yang menyakiti hati kita.

Besyukurlah atas rezeki hari ini.

Mohon ampunlah atas dosa kita hari ini.

Serahkan semua masalah kepada Yang Menciptakan jalan keluar.

Ucapkanlah syahadat lalu pejamkanlah mata malam ini.

Semoga kesempatan esok adalah kebaikan.

Atau semoga esok adalah akhir yang baik dari hidup kita.

"Mengingat dan Mencari Kembali"

Mengingat kembali cerita yang terlewatkan

Mencari kembali kata hati yang hilang

Mencoba mengais kembali kepingan- kepingan hari yang terlalui

Membuka kembali lembaran hidup yang usang

Menengok kembali bekas tapak-tapak kaki yang tertinggal

Menerawang langit malam mencari episode hidup yang hilang

Mengenang kembali lelahnya hari

Mudah-mudahan disana ada kekuatan yang bisa kutemukan

Untuk melangkah mengarungi sisa perjalanan

Mudah-mudahan disana ada pelajaran yang bisa kutemukan

Untuk menasehatiku di sisa hidupku

"Menjalani Hari Kembali"

Menjalani kembali hari yang datang, memutuskan yang harus diputuskan. Kehidupan dunia merupakan perjuangan, datang dengan realitanya dan tanpa kompromi membagikan yang Allah tentukan untuk setiap komponen, sebanding tanpa pengurangan dan penambahan. Sikapilah yang harus disikapi, selesaikanlah yang harus diselesaikan, hadapilah yang harus dihadapi, terimalah yang merupakan bagian kita, lepaskanlah yang bukan diperuntukan bagi kita, mengalahlah jika itu yang terbaik, diamlah jika harus diam. Tidak perlu memaksakan diri, tidak perlu mempersulit diri. Beristirahatlah saat lelah kemudian kembalilah berjalan saat pulih.

Kehidupan dunia banyaknya adalah sedikit, adanya adalah ketiadaan. Permudahlah urusan bagi diri kita. Jika sesuatu hilang percayalah pasti ada ganti yang lebih baik, jika sesuatu luput percayalah ada yang lain diperuntukan bagi kita.

Cukuplah dengan yang datang, tentramlah dengan yang terjadi, manfaatkan untuk kebaikan sarana yang ada kemudian serahkan keputusannya kepada Yang Maha Adil.

"Kembali Merenung"

Kembali merenung mungkin itu yang harus aku lakukan, perjalanan hidupku akhir-akhir ini terasa mengalami pergeseran dari kata hatiku dahulu. Kehidupan yang melelahkan dan keras sudah aku lewati, tidak pernah bersedih dengan apa yang akan aku makan dan minum esok hari, tidak pernah risau yang menggebu-gebu dengan apa yang kehidupan hamparkan kepadaku, selalu ingin membagi senyum kepada semua yang menjadi sahabatku di kehidupan ini, selalu merasa cukup dengan rezeki hari ini, tentram dengan yang sedikit dan senantiasa menyerahkan hariku kepada kebijaksanaan Yang Maha Bijaksana.

Rasanya ada perubahan yang perlahan-lahan dari sudut pandangku tentang kehidupan. Sepertinya saat ini aku kelihatan menjadi semakin lemah menghadapi kehidupan, semakin cemas menghadapi datangnya hari esok serta semakin kuatir dengan harapan-harapanku. Rasanya mengenali diriku saat ini membuat aku malu sendiri, terasa mundur menjadi kekanak-kanakan, mengingat apa yang telah aku lakukan, apa yang telah aku sikapi dan apa yang aku putuskan membuat aku menunduk karena malu atas semua kebodohanku.

Semuanya berawal dari keinginanku untuk mendapatkan sahabat sejati dalam hidupku. Tetapi aku akhirnya terjebak dengan yang namanya rasa cinta. Dahulu aku mengira bahwa itu semua tidak perlu dipikirkan dengan berlebihan, bahwa itu semua sepertinya akan mudah apalagi niatan awalku adalah kebaikan yaitu mengikuti sunah Baginda Rosul yaitu menikah. Tetapi ketika aku memasuki tahapannya ternyata pukulan, tamparan dan jatuh terperosok membuat aku berpikir bahwa setiap tahapan baru dalam kehidupan ini membutuhkan ilmu yang baru pula sehingga tidak dapat di anggap sepele.

Aku rindu dengan ketegaranku di masa yang lalu, aku rindu dengan hatiku yang tanpa kegundahan seperti masa laluku. Ya Allah….., hamba mohon jangan hinakan hamba karena rasa cinta kepada makhluk-Mu. Ya Allah…, bimbing hamba melewati setiap tahapan hidupku agar aku tidak berbelok dari jalan-Mu yang lurus. Ya Allah…ya Robb-ku, kasihanilah dan ampunilah hamba-Mu yang lemah ini. Amiiin